Pustakawan sebagai Cyber untuk Masyarakat 5.0

Perpustakaan merupakan institusi pengelola informasi salah satu bidang penerapan teknologi informasi yang berkembang pesat. Perkembangan dari penerapan teknologi informasi bisa kita lihat berdasarkan perkembangan jenis perpustakaan yang selalu berkaitan dengan teknologi informasi, diawali dengan penerapan perpustakaan yang manual, perpustakaan terotomasi, perpustakaan hybrid, sampai pada perpustakaan digital (digital library) atau cyber library. Perpustakaan modern harus terus berfokus pada inovasi terbaru. Internet menjadi komponen penting bagi pengguna di dalamnya. Melalui internet, pemustaka dapat mengakses sumber data yang hampir tak terbatas termasuk situs web yang menawarkan banyak hal.

Untuk itu pentingnya meningkatkan kualitas peran pustakawan dalam memahami kebutuhan net generation. Seperti yang masyarakat umum tahu, jika mendengar mengenai pustakawan yang ada dipikiran adalah sebuah profesi yang terbatas pada pengelolaan bahan-bahan pustaka saja. Pada perkembangan teknologi di era seperti ini, banyak kejahatan-kejahatan yang dapat dilakukan melalui berbagai hal. Karena perpustakaan unit yang sangat penting dalam menyimpan informasi, maka diperlukan tindakan untuk mengantisipasi terjadinya perampasan sumber infomasi.

Cyber Librarian adalah istilah baru dalam dunia perpustakaan. Istilah ini muncul pada implementasi dunia teknologi informasi yang semakin hari semakin digunakan dalam pelayanan perpustakaan. Cybrarian atau sering disebut Cyber Librarian adalah pustakawan yang menggunakan komputer dan internet dalam pekerjaannya, orang ini adalah yang bekerja melakukan penelusuran online dan temu kembali terutama dalam menjawab pertanyaan tentang referensi online (Smith, 2011). Selain memahami pengetahuan tentang ilmu perpustakaan secara teori dan praktiknya, pustakawan juga harus memahami bagaimana website milik perpustakaan yang senantiasa terus menerus dikunjungi dan digunakan oleh pemustaka. Yang mana hal tersebut disebabkan banyaknya informasi dalam perpustakaan yang dibutuhkan oleh pemustaka. Cybrarian tidak hanya berperan sebagai “tukang upload eresource” dan administrator jaringan, Cybrarian juga berperan sebagai penguasa atas sumber data informasi. Cybrarian ini juga mempunyai manfaat dalam mengelola data anggota, buku, periodikal, sirkulasi dan inventaris.

Referensi:

Promosi perpustakaan melalui media sosial di perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro Semarang

Promosi merupakan bagian dari layanan perpustakaan yang bertujuan untuk mengkomunikasikan sumber-sumber informasi yang tersedia baik koleksi digital maupun koleksi non-digital kepada  seluruh anggota perpustakaan. Maka perkembangan layanan perpustakaan harus terus beradaptasi dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.    

Untuk itu perpustakaan sendiri harus mampu mengkomunikasikan berbagai layanan, kegiatan, koleksi buku, dan fasilitas kepada para penggunanya. Promosi adalah bagian dari kegiatan pemasaran perpustakan (Library Marketing). Dengan  dilakukannya kegiatan promosi  perpustakaan para pengguna paham apa saja layanan fasilitas yang ada di perpustakan dan informasi, apa saja yang didapat saat berkunjung ke perpustakaan. Kegiatan dilakukannya promosi sendiri bersifat mengajak para pengguna untuk lebih dekat dengan perpustakaan. Pengguna perpustakaan zaman sekarang, generasi yang lahir dan tumbuh dalam perkembangan kecanggihan teknologi dan informasi sehingga disebut dengan Net Generation. Maka pihak perpustakaan harus menyesuaikan desain promosi perpustakaan terhadap karakteristik Net Generation sebagai pengguna perpustakaan.      

Karakteristik para Net Generation ini tidak menyukai aturan yang mengekangnya, dan cenderung bebas melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Promosi perpustakaan yang dilakukan oleh pustakawan harus dikemas semenarik mungkin sesuai zaman mereka dan tidak ada paksaannya. Maka pustakawan harus mengetahui media apa saja yang sering digunakan anak milenial zaman sekarang. Di perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro sendiri  memiliki media sosial untuk melalukan kegiatan promosi yaitu seperti  Instagram, Twitter, Facebook, dan Youtube.

Referensi :    

Pelayanan berbasis system smart computer dalam pemanfaatan e-library

  • Devinisi dan Sejarah Perkembangan e-library

Istilah e–library merupakan suatu gambaran teknologi dalam perpustakaan yang dimana semua koleksinya dalam bentuk digital yang tertata, sehingga dapat diakses kapan saja dan dimana saja serta cara penyampaian dan penyebaran  informasinya cepat, akurat dan tepat. Gagasan ini muncul pertama oleh Vannevar Bush pada tahun 1945. Ia mengeluhkan penyimpanan secara manual yang menghambat akses terhadap penelitian yang susah dipublikasikan.

Lalu pada dekade 1950- an dan 1960-an mulai adanya keterbukaan akses terhadap koleksi perpustakaan yang terus dikembangkan oleh para peneliti, pustakawan namun pada dekade ini teknologi yang ada belum cukup menujang. Kemudian pada 1980-an beberapa fungsi perpustakaan telah diotomasikan melalui komputer namun hanya bisa dilakukan pada lembaga – lembaga besar di karenakan biaya yang masih tinggi. Berlanjut pada tahun 1990-an hampir semua seluruh fungsi perpustakaan telah ditunjang dengan sistem otomasi, fungsi-fungsi tersebut diantara lain ialah katalog, sirkulasi, peminjaman antar pemustaka, dan pengelolaan jurnal serta data pengguna. Pengembangan sistem terus dilakukan hingga menjadi seperti saat ini.

  • Fitur-Fitur yang tersedia di e-library         

Kemudian ada beberapa fitur yang harus dimiliki setiap perpustakaan yang dapat diakses di dalam e-libabry diantara lain ialah :

  1. Presensi Pengunjung.
  2. OPAC Online Publich Acces Catalog : Fitur ini digunakan oleh pengguna untuk memudahkan pengguna dalam mencari katalog.
  3. Manajemen Bibliografi (Pengadaan, Eksemplar, dll).
  4. Transaksi peminjaman, dan pengembalian.
  5. Manajemen member atau pengguna.
  6. Manajemen penerbitan berkala.

Berdasarkan fitur–fitur umum yang harus di miliki e-library di atas ialah harus sesuai dengan operasional perpustakaan mulai dari pengolahan koleksi bahan pustaka, pengadaan, sirkulasi, keanggotaan, dan OPAC, dan pekerjaan lain dalam ruang lingkup perpustakaan.

  • Pemanfaatan e-library

Manfaat digital library sebagai suatu layanan baru di perpustakaan bagi komunitas pengguna perpustakaan adalah sebagai berikut :

  1. Digital library merupakan layanan yang dapat membantu pada inisiatif pembelajaran yang terintgrasi.
  2. Digital library merupakan sumber yang sempurna untuk mengirimkan teks lengkap dan referensi penting bagi mutimedia, mudah untuk dilakukan dalam penelitian, serta mempermudah dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar (guru atau dosen).
  3. Menciptakan menu bacaan dengan halaman-halaman topik, pelajaranpelajaran dan halaman peminat dan kepeluan komunitas perguruan tinggi.
  4. Mengurangi terjadinya pengulangan kegiatan (Plagiarism).
  5. Penyebaran dan akses informasi akan lebih cepat tanpa batas waktu dan tempat, karena tidak terikat secara nyata atu fisik.
  6. Bersifat lebih luas dari katalog induk dunia (universal main catalogue) dan mampu melakukan kerjasama dalam jejaring informasi (information networking).
  7. Mahasiswa dengan mudah menemukan persoalan yang mereka butuhkan seperti majalah, koran, buku-buku dan transkrip teks lengkap. Informasi tersebut termaksud peta atau atlas, website yang digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah.

Referensi