INTERAKSI POST KONTEN AKUN TIKTOK @dinuslib SELAMA BULAN APRIL – JULI 2022

INTERAKSI POST KONTEN AKUN TIKTOK @dinuslib SELAMA BULAN APRIL – JULI 2022

Perkembangan teknologi yang semakin cepat dan luas memiliki dampak yang positif bagi institusi pengetahuan seperti perpustakaan. Salah satu bentuk perkembangan teknologi dibuktikan dengan adanya media sosial. Pada masa pandemi Covid-19 saat ini dimana era digital semakin maju untuk melakukan kegiatan pemasaran, salah satunya dengan memanfaatkan media sosial seperti TikTok. Berdasarkan laporan We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 191 juta orang pada Januari 2022. Jumlah itu telah meningkat 12,35% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 170 juta orang. Dari data periklanan ByteDance, jumlah pengguna TikTok di Indonesia yang berusia lebih dari 18 tahun mencapai 92,07 juta pada tahun 2022. Masifnya pengguna TikTok di berbagai negara termasuk di Indonesia sendiri, melahirkan peluang dan memunculkan potensi pemasaran. Hal ini dikarenakan TikTok memiliki fitur yang menarik dan juga basis data yang lengkap.

Oleh karena itu, promosi online dapat memberikan akses yang sangat luas dalam melakukan pemasaran layanan jasa perpustakaan dikarenakan setiap orang dari berbagai kalangan daerah dan mancanegara tidak terlepas dari internet. Promosi online ini sangatlah efektif untuk menjangkau pemustaka dan calon pemustaka. UPT Perpustakaan UDINUS atau biasa disebut dengan Dinuslib juga melakukan promosi atau branding perpustakaan melalui sosial media TikTok dengan username akun @dinuslib. Sejak kiriman video pertama pada 18 Januari 2022, hingga saat ini akun Dinuslib sudah memposting sebanyak 18 video. Dengan jumlah video tersebut, terdapat beberapa konten dengan interaksi post terbanyak selama 3 bulan terakhir (8 April-8 Juli 2022). Interaksi post di TikTok menandakan tingkat komunikasi dengan sesama pengguna TikTok pada tiap post videonya. Tingginya tingkat interaksi pada akun membuktikan bahwa akun berhasil menjangkau pengguna untuk memberikan reaksi, komentar dan membagikan video.

Dari 10 video yang diunggah 3 bulan terakhir, menggunakan online tool untuk menganalisis dan memantau sosial media yaitu Fanpage Karma, ada tiga video dengan interaksi post terbanyak yaitu:

  1. Post tanggal 22 Juni dengan konten hiburan yang menceritakan POV apabila meminta rekomendasi buku menarik ke pustakawan dan disertai tagar #Dinuslib #pustakawan #librarian #perpustakaan #books #library memiliki tingkat interaksi sebesar 40%.
  2. Post tanggal 4 Juli dengan konten hiburan yang menginformasikan 10 judul buku paling banyak dipinjam di Dinuslib dan disertai atgar  #library #udinus #perpustakaan #buku #fakultasekonomidanbisnis memiliki tingkat interaksi sebesar 20%.
  3. Post tanggal 10 Juni dengan konten hiburan yang mempromosikan series buku Percy Jackson yang dimiliki Dinuslib untuk dipinjam mengingat series tersebut akan difilmkan oleh Disney+ sebentar lagi. Konten ini memuat tagar  #library #udinus #perpustakaan #buku #fakultasekonomidanbisnis dan memiliki tingkat interaksi sebesar 13%.

Adanya ketiga video dengan interaksi terbanyak tersebut manandakan akun TikTok @dinuslib masih memiliki 33% konten yang dapat dijangkau interaksinya.

Sejalan dengan tujuan branding perpustakaan melalui media sosial untuk mempromosikan kegiatan, layanan dan koleksinya kepada pemustaka, UPT Perpustakaan UDINUS harus melakukan beberapa peningkatan lagi agar konten-konten videonya dapat memiliki tingkat interaksi yang tinggi dan secara merata dapat menjangkau banyak pengguna TikTok, khususnya sivitas akademik UDINUS dengan cara:

  1. Menganalisis jangkauan dari setiap video yang diunggah, penayangan, jam tayang yang paling efektif dan reaksi pengguna
  2. Mengunggah video secara rutin dan teratur berdasarkan analisis dari poin 1
  3. Melibatkan pemustaka dalam berbagai konten video agar pemustaka mengetahui informasi akun media sosial Dinuslib
  4. Menambah variasi konten yang informatif, promotif dan menghibur. (Fadilla)

Marketing Mix Pada Media Sosial Instagram Dinuslib

Marketing Mix Pada Media Sosial Instagram Dinuslib

Teknologi informasi dan internet terus mengalami perkembangan mengikuti perkembangan masyarakat khususnya untuk memenuhi kebutuhan manusia yang kian hari terus berkembang. Dalam bidang komunikasi khususnya komunikasi massa atau dapat disebut sebagai media sosial, teknologi informasi yang mendukung kegiatan komunikasi di berbagai portal aplikasi media sosial terus berkembang dan kian beragam. Beberapa media sosial terus bermunculan dan kian beragam fungsi serta manfaatnya. Beberapa media sosial yang sedang banyak digunakan atau sedang banyak dibicarakan di masyarakat saat ini yakni TikTok, Instagram, Twitter, Facebook, dan sebagainnya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak menggunakan media sosial sebagai salah satu media berkomunikasi dan media hiburan. Menurut riset yang dilakukan oleh data reportal pada Januari 2022 pengguna media sosial di Indonesia mengalami peningkatan mencapai 191,4 persen dari yang sebelumnya hanya 12,6 persen atau 21 juta penduduk Indoensia (Prastya, 2022). Media sosial instagram di Indonesia menjadi salah satu media sosial yang cukup banyak digunakan dan bahkan hampir keseluruhan masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial dan generasi Z yang memang dekat dengan perkembangan teknologi tersebut. Hal ini dibuktikan melalui data reportal dengan adanya peningkatan pengguna Instagram mencapai 99,15 juta orang (Prastya, 2022). Sedangkan menurut data yang diperoleh dari Good Stats Indonesia termasuk dalam urutan keempat negara dengan pengguna aktif instagram terbanyak setelah negara Brasil (Hasya, 2022). Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) merupakan salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang menjawab tantangan adanya media sosial tersebut dengan menggunakan berbagai media sosial dalam mempromosikan dan berkomunikasi dengan pemustaka. Salah satu media sosial yang paling aktif digunakan dalam membagikan kegiatan di Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) adalah instagram. Instastory serta postingan gambar dan video adalah fitur yang sering dimanfaatkan Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) dalam melakukan promosi. Jika dianalisis lebih mendalam Teori unsur bauran promosi pada Instagram Dinuslib menurut Kotler (2001) dalam (Faisal & Rohmiyati, 2017) terdiri lima elemen yakni:

  1. Pemanfaatan Instagram sebagai Media Promosi dalam Periklanan

Di dalan dunia perpustakaan kegiatan promosi periklanan ini memiliki fungsi dan pengaruh yang baik tidak hanya terhadap citra perpustakaan tetapi juga pada minat kunjung pemustaka yang meningkat seiring dengan giatnya perpustakaan melakukan promosi melalui periklanan tersebut. Pada fungsi informing, hal mendasar yang perlu dipublikasi oleh pustakawan Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) adalah jam buka perpustakaan. Dengan mempublikasi jam buka ini sehingga pemustaka dapat mengetahui jam buka dari Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS).

2. Pemanfaatan Instagram Sebagai Promosi Penjualan Personal

Penjualan personal adalah tahap bauran promosi dimana perusahaan atau penjual mulai mengenali konsumen dengan cara menciptakan hubungan antara penjual dan konsumen. Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) memanfaatkan instagram sebagai media personal selling guna membentuk kerjasama yang baik dengan pihak eksternal atau pun dengan pihak internal perguruan tinggi. Contoh personal selling yakni Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) menyelenggarakan program vaksin booster gratis bersama Polda Jateng sebagai upaya penyelenggaran program vaksinasi yang berjalan dengan baik Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) ikut membantu dalam mempromosikan kegiatan tersebut melalui instagram. Konten yang dibagikan ini memang tidak terkait dengan kegiatan perpustakaan.

3. Pemanfaatan Instagram Sebagai Promosi Penjualan

Aktivitas pemasaran yang memberikan nilai tambah dari suatu produk untuk meningkatkan penjualan dan minat konsumen terhadap produk tersebut. Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) menggunakan instagram sebagai media dalam menyebarkan acara giveaway yang dapat diikuti seluruh pengikut. Giveaway ini secara tidak langsung meningkatkan kecintaan terhadap Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) karena untuk memenangkan giveaway tersebut followers diminta untuk membuat konten tentang Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS).

4. Hubungan Masyarakat

Upaya perpustakaan dalam mempengaruhi persepsi, opini, dan keyakinan suatu kelompok yang dalam hal ini adalah pengunjung perpustakaan atau pemustaka yakni dengan cara hubungan masyarakat. Selama ini masyarakat hanya mengetahui bahwa perpustakaan adalah tempat menyimpan buku tanpa perlu adanya standar yang harus dipenuhi oleh setiap perpustakaan baik dalam layanan, koleksi, ruangan, perabotan, dan lainnya. Namun pada kenyataannya perpustakaan perlu dilakukan akreditasi setiap 5 tahun sekali guna mengetahui kekurangan yang belum terpenuhi secara standar perpustakaan. Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) melakukan akreditasi setiap 5 tahun sekali guna memenuhi standarisasi perpustakaan yang ada di Indonesia dan mempublikasikan kegiatan akreditasi tersebut di instagram.

5. Promosi dalam Pemasaran Langsung

Pemasaran langsung ini dapat berupa komunikasi timbal balik antara pustakawan dengan pemustaka melalui media sosial instagram. Komunikasi dua arah melalui instastory merupakan salah satu fitur yang ditawarkan oleh instagram yang digunakan oleh Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) untuk mengetahui kebutuhan koleksi. Pustakawan bertanya terkait UKM apa saja yang followers dinuslib ikuti, setelah mengetahui beberapa UKM tersebut pustakawan memberi tanggapan melalui instastory dengan caption-caption yang lucu dan lebih santai.

Berdasarkan hasil analisis penggunaan instagram sebagai media promosi Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) dengan memperhatikkan teori bauran promosi dapat disimpulkan bahwa media sosial dapat digunakan sebagai media promosi perpustakaan yang lebih menjangkau masyarakat luas dengan biaya yang cukup murah, hasil yang menarik, dan menciptakan hubungan dengan berbagai pihak. Fitur-fitur instagram seperti postingan, instastory, dan lainnya dapat digunakan guna mendukung promosi Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) yang menarik menyeseuaikan dengan perkembangan teknologi khususnya di kalangan mahasiswa. (Hapsari)

Daftar Pustaka

Faisal, I. A., & Rohmiyati, Y. (2017). Analisis Pemanfaatan Media Instagram Sebagai. Repository Fakultas Ilmu Budaya Univ. Diponegoro, 6(4), 10.

Hasya, R. (2022). Seberapa Besar “The Power of Netizen Indonesia” di Instagram? Good Stats. https://goodstats.id/article/seberapa-besar-the-power-of-netizen-indonesia-di-instagram-ktfX4

Prastya, D. (2022). Jumlah Pengguna Media Sosial Indonesia Capai 191,4 Juta per 2022. suara.com. https://www.suara.com/tekno/2022/02/23/191809/jumlah-pengguna-media-sosial-indonesia-capai-1914-juta-per-2022

Electronic Book : Manufer dalam menarik minat baca generasi adiktif gawai

Electronic Book : Manufer dalam menarik minat baca generasi adiktif gawai

Indonesia termasuk dalam kategori negara berkembang. Maka dari itu, banyak hal yang telah di modernisasi, Termasuk dalam pendidikan. Di masa teknologi saat ini, semua orang bisa mengakses apapun, seperti video edukasi, audiobook, maupun buku elektronik yang sekarang biasa kita sebut dengan istilah E-book. Buku yang biasa kita kenal dengan benda yang berat dan repot untuk dibawa, kini telah dikemas mengikuti perkembangan teknologi saat ini dengan sangat praktis.

Kita dapat dengan mudah mengakses E-book di manapun dan kapanpun. Banyak website yang menyediakan E-book secara gratis maupun berbayar, mulai dari bahasa indonesia sampai ke bahasa inggris. E-book mulai menjadi trend di beberapa perpustakaan umum maupun perpustakaan universitas saat ini. Sekarang, mahasiswa dapat mengakses buku yang akan mereka baca hanya bermodalkan gawai dan internet. Buku yang disediakan pun sangat bervariasi, dari buku anak yang diperuntukkan untuk anak dibawah 12 tahun, buku yang berisi referensi mahasiswa, hingga buku tentang cara berwira-usaha.

E-book berhasil mengubah pandangan banyak orang tentang buku. Banyak orang yang sebelumnya memandang buku secara sebelah mata atau bahkan tidak pernah menyentuh buku sama sekali menjadi tertarik untuk membaca. Banyak bukti nyata yang menggambarkan seberapa efektifnya E-book untuk menjadi bahan edukasi maupun pengisi waktu luang, mulai dari guru yang memanfaatkan format E-book sebagai media pembelajaran, hingga para penulis yang dapat dengan mudah mempublikasi tulisan mereka.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh pustakawan untuk mendapatkan dan mengisi E-book ke dalam domain perpustakaan mereka. Mulai dari membeli, mendownload, hingga menerima sumbangan dari dosen. Buku-buku tersebut tidak akan rusak maupun kusam sampai kapanpun dan tetap akan bisa diakses oleh semua mahasiswa/i sebagai bahan referensi mereka. Beberapa perpustakaan juga memanfaatkan SLiMS dan FlipBook untuk mengelola E-book.

Buku yang sebelumnya dapat dengan mudah memenuhi tempat/ruangan dan dapat menjadi sangat berat, dapat dikelola hingga menjadi buku elektronik dengan cara yang relatif mudah. Buku lama yang kiranya akan memenuhi ruangan jika ditimbun dapat discan kembali untuk dijadikan format pdf, kemudian di-input ke domain perpustakaan untuk dimanfaatkan banyak orang kembali tanpa takut akan rusak.

Tentu saja, masih banyak kekurangan yang terdapat dalam e-book. Keharusan dalam memiliki gawai dan internet menjadi sisi negatif e-book yang paling mencolok. Bahkan, gawai yang dimiliki juga harus mempunyai spesifikasi tersendiri untuk dapat mengakses website E-book. Sisi negatif lainnya adalah semakin ketergantungan nya manusia terhadap gadget. Oleh karena itu, masih banyak orang yang memilih buku biasa daripada buku elektronik.

Harapan Pemustaka Untuk Dinuslib

Harapan Pemustaka Untuk Dinuslib

Pada artikel sebelumnya, kita sudah mengetahui alasan dibalik fakta bahwa terdapat 22% responden berpendapat bahwa Dinuslib tidak berdampak untuk pengembangan prestasinya. Hal tersebut tentu saja harus diimbangi dengan mengetahui harapan responden terhadap Dinuslib. Berikut harapan-harapan yang disampaikan oleh responden :

  1. Dinuslib dapat menambah fasilitas pada ruang fisiknya.

Fasilitas dapat berupa ruang atau gedung, sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas di ruang fisik Dinuslib, contohnya adalah luas ruangan Dinuslib yang dirasa pemustaka kurang memadai dan AC yang kurang maksimal. Fasilitas-fasilitas tersebut jelas mempengaruhi kenyamanan ketika pemustaka menggunakan ruang fisik Dinuslib.

2. Dinuslib dapat memaksimalkan branding.

Diketahui dari kuesioner ternyata ada pemustaka potensial yang belum mengenal Dinuslib dengan baik. Mereka belum mengetahui apa saja yang Dinuslib punya dan dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu, pemustaka berharap agar Dinuslib dapat lebih menggencarkan branding.

3. Dinuslib menambah koleksi yang dimilikinya.

Pemustaka berharap koleksi Dinuslib semakin variatif atau banyak jenisnya. Sumber informasi tidak hanya berupa buku dan artikel jurnal, Dinuslib harus memahami dan dapat memenuhi kebutuhan akan jenis sumber informasi apa saja yang dapat digunakan oleh pemustaka.

4. Memaksimalkan website & repository yang dimiliki oleh Dinuslib.

Dinuslib sudah memiliki website & repository, hanya pemanfaatannya belum maksimal. Belum banyak pemustaka yang mengakses website Dinuslib padahal koleksi Dinuslib dapat dilihat dari website tersebut. Pemustaka berharap agar Dinuslib menggencarkan sosialisasi website dan memperbaiki repository.

5. Berperan aktif dalam memaksimalkan pembentukan budaya “Gemar Membaca”.

Pemustaka berharap agar Dinuslib mendukung program pemerintah yakni gerakan “Gemar Membaca” dengan membuat event atau kegiatan unik yang dapat merangsang minat membaca, minimal pemustaka Dinuslib sendiri.

6. Selalu up to date terhadap sumber informasi terbaru.
Dinuslib harus selalu mengikuti perkembangan zaman, baik dalam pengetahuan tentang informasi maupun sumbernya.

Harapan-harapan inilah yang Dinuslib gunakan untuk menyusun program kerja, baik jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek agar apa yang Dinuslib lakukan selaras dengan kebutuhan dan keinginan pemustaka.

Alasan Dibalik 22% Jawaban “Tidak Berdampak”

Alasan Dibalik 22% Jawaban “Tidak Berdampak”

Melanjutkan artikel sebelumnya, pada kuesioner “Dampak Perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro Terhadap Perkembangan Prestasi Mahasiswa” terdapat pertanyaan “Menurutmu pribadi, apakah Dinuslib memiliki dampak untuk prestasimu?”. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa 78% responden menjawab ‘berdampak’ sedangkan 22% responden menjawab ‘tidak berdampak’. Ketika mendapatkan hasil tersebut, tentu saja Dinuslib harus mengetahui lebih dalam alasan responden menjawab ‘tidak berdampak’. Tujuannya adalah untuk melihat dan mencari hal-hal yang bisa dilakukan sehingga ke depannya jawaban ‘tidak berdampak’ ini prosentasenya semakin kecil.
Oleh karena itu, Dinuslib memberikan isian lanjutan yakni “Sebutkan alasannya”. Jawaban dari isian tersebut disimpulkan menjadi 4 poin. Berikut poin-poin alasan yang dimaksud :
1. Responden (mahasiswa) belum pernah mengunjungi atau mengakses Dinuslib.
2. Kurangnya arahan dan informasi tentang cara memanfaatkan Dinuslib.
3. Mahasiswa merasa lebih mudah mencari referensi dengan menggunakan Google Scholar.
4. Adanya anggapan dari dalam diri mahasiswa bahwa Dinuslib hanya dimanfaatkan oleh mahasiswa semester akhir saat mengerjakan Tugas Akhir.
Dengan diketahuinya alasan-alasan tersebut, Dinuslib dapat membuat program kerja yang tepat sebagai solusinya.

Dampak Dinuslib untuk Pemustaka

Dampak Dinuslib untuk Pemustaka

Karena ingin mengetahui apakah Dinuslib bermanfaat untuk pemustaka, Dinuslib melakukan survey singkat menggunakan google form. Link google form dibagikan melalui Instagram Dinuslib. Untuk menarik pemustaka agar mengisi survey, Dinuslib menyediakan hadiah bagi pemustaka yang beruntung. Sebanyak 496 pemustaka mengisi survey yang Dinuslib buat. 496 pemustaka tersebut semuanya mahasiswa Udinus. 62,2% mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, 16,3% mahasiswa Fakultas Ekonomi & Bisnis, 10,6% mahasiswa Fakultas Kesehatan, 5,4% mahasiswa Fakultas Teknik, 4,2% mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, dan 1% mahasiswa pascasarjana.

94,2% pemustaka mengaku pernah membuat karya ilmiah. Kebanyakan karya ilmiah yang dibuat adalah tugas akhir. 48,8% pemustaka membuat karya ilmiah tersebut menggunakan referensi dari sumber yang disediakan Dinuslib. Hal ini membuktikan bahwa fungsi utama Dinuslib sebagai penyedia sumber informasi benar-benar telah terlaksana. Pemustaka memanfaatkan sumber referensi yang disediakan oleh Dinuslib. Dari berbagai macam sumber referensi yang disediakan, 59,8% pemustaka memanfaatkan artikel jurnal yang dilanggan oleh Dinuslib, sedangkan 25,4% pemustaka memanfaatkan buku cetak. Sisanya memanfaatkan e-book dan tugas akhir yang didisplay oleh Dinuslib. 78% pemustaka mengaku, menurut pendapat pribadi mereka Dinuslib memiliki dampak untuk prestasi pemustaka. Walaupun sudah jelas terlihat dari hasil di atas tadi, yakni Dinuslib menyediakan sumber informasi yang dimanfaatkan oleh pemustaka untuk menunjang perkembangan prestasi mereka dalam bidang akademik. Selain dampaknya dalam penyediaan sumber informasi, pemustaka menyebutkan bahwa Dinuslib juga memiliki dampak dalam menambah wawasan, mendukung orisinalitas karya ilmiah, serta menyediakan tempat yang kondusif untuk belajar.

Pustakawan sebagai Cyber untuk Masyarakat 5.0

Perpustakaan merupakan institusi pengelola informasi salah satu bidang penerapan teknologi informasi yang berkembang pesat. Perkembangan dari penerapan teknologi informasi bisa kita lihat berdasarkan perkembangan jenis perpustakaan yang selalu berkaitan dengan teknologi informasi, diawali dengan penerapan perpustakaan yang manual, perpustakaan terotomasi, perpustakaan hybrid, sampai pada perpustakaan digital (digital library) atau cyber library. Perpustakaan modern harus terus berfokus pada inovasi terbaru. Internet menjadi komponen penting bagi pengguna di dalamnya. Melalui internet, pemustaka dapat mengakses sumber data yang hampir tak terbatas termasuk situs web yang menawarkan banyak hal.

Untuk itu pentingnya meningkatkan kualitas peran pustakawan dalam memahami kebutuhan net generation. Seperti yang masyarakat umum tahu, jika mendengar mengenai pustakawan yang ada dipikiran adalah sebuah profesi yang terbatas pada pengelolaan bahan-bahan pustaka saja. Pada perkembangan teknologi di era seperti ini, banyak kejahatan-kejahatan yang dapat dilakukan melalui berbagai hal. Karena perpustakaan unit yang sangat penting dalam menyimpan informasi, maka diperlukan tindakan untuk mengantisipasi terjadinya perampasan sumber infomasi.

Cyber Librarian adalah istilah baru dalam dunia perpustakaan. Istilah ini muncul pada implementasi dunia teknologi informasi yang semakin hari semakin digunakan dalam pelayanan perpustakaan. Cybrarian atau sering disebut Cyber Librarian adalah pustakawan yang menggunakan komputer dan internet dalam pekerjaannya, orang ini adalah yang bekerja melakukan penelusuran online dan temu kembali terutama dalam menjawab pertanyaan tentang referensi online (Smith, 2011). Selain memahami pengetahuan tentang ilmu perpustakaan secara teori dan praktiknya, pustakawan juga harus memahami bagaimana website milik perpustakaan yang senantiasa terus menerus dikunjungi dan digunakan oleh pemustaka. Yang mana hal tersebut disebabkan banyaknya informasi dalam perpustakaan yang dibutuhkan oleh pemustaka. Cybrarian tidak hanya berperan sebagai “tukang upload eresource” dan administrator jaringan, Cybrarian juga berperan sebagai penguasa atas sumber data informasi. Cybrarian ini juga mempunyai manfaat dalam mengelola data anggota, buku, periodikal, sirkulasi dan inventaris.

Referensi:

Promosi perpustakaan melalui media sosial di perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro Semarang

Promosi merupakan bagian dari layanan perpustakaan yang bertujuan untuk mengkomunikasikan sumber-sumber informasi yang tersedia baik koleksi digital maupun koleksi non-digital kepada  seluruh anggota perpustakaan. Maka perkembangan layanan perpustakaan harus terus beradaptasi dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.    

Untuk itu perpustakaan sendiri harus mampu mengkomunikasikan berbagai layanan, kegiatan, koleksi buku, dan fasilitas kepada para penggunanya. Promosi adalah bagian dari kegiatan pemasaran perpustakan (Library Marketing). Dengan  dilakukannya kegiatan promosi  perpustakaan para pengguna paham apa saja layanan fasilitas yang ada di perpustakan dan informasi, apa saja yang didapat saat berkunjung ke perpustakaan. Kegiatan dilakukannya promosi sendiri bersifat mengajak para pengguna untuk lebih dekat dengan perpustakaan. Pengguna perpustakaan zaman sekarang, generasi yang lahir dan tumbuh dalam perkembangan kecanggihan teknologi dan informasi sehingga disebut dengan Net Generation. Maka pihak perpustakaan harus menyesuaikan desain promosi perpustakaan terhadap karakteristik Net Generation sebagai pengguna perpustakaan.      

Karakteristik para Net Generation ini tidak menyukai aturan yang mengekangnya, dan cenderung bebas melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Promosi perpustakaan yang dilakukan oleh pustakawan harus dikemas semenarik mungkin sesuai zaman mereka dan tidak ada paksaannya. Maka pustakawan harus mengetahui media apa saja yang sering digunakan anak milenial zaman sekarang. Di perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro sendiri  memiliki media sosial untuk melalukan kegiatan promosi yaitu seperti  Instagram, Twitter, Facebook, dan Youtube.

Referensi :    

Pelayanan berbasis system smart computer dalam pemanfaatan e-library

  • Devinisi dan Sejarah Perkembangan e-library

Istilah e–library merupakan suatu gambaran teknologi dalam perpustakaan yang dimana semua koleksinya dalam bentuk digital yang tertata, sehingga dapat diakses kapan saja dan dimana saja serta cara penyampaian dan penyebaran  informasinya cepat, akurat dan tepat. Gagasan ini muncul pertama oleh Vannevar Bush pada tahun 1945. Ia mengeluhkan penyimpanan secara manual yang menghambat akses terhadap penelitian yang susah dipublikasikan.

Lalu pada dekade 1950- an dan 1960-an mulai adanya keterbukaan akses terhadap koleksi perpustakaan yang terus dikembangkan oleh para peneliti, pustakawan namun pada dekade ini teknologi yang ada belum cukup menujang. Kemudian pada 1980-an beberapa fungsi perpustakaan telah diotomasikan melalui komputer namun hanya bisa dilakukan pada lembaga – lembaga besar di karenakan biaya yang masih tinggi. Berlanjut pada tahun 1990-an hampir semua seluruh fungsi perpustakaan telah ditunjang dengan sistem otomasi, fungsi-fungsi tersebut diantara lain ialah katalog, sirkulasi, peminjaman antar pemustaka, dan pengelolaan jurnal serta data pengguna. Pengembangan sistem terus dilakukan hingga menjadi seperti saat ini.

  • Fitur-Fitur yang tersedia di e-library         

Kemudian ada beberapa fitur yang harus dimiliki setiap perpustakaan yang dapat diakses di dalam e-libabry diantara lain ialah :

  1. Presensi Pengunjung.
  2. OPAC Online Publich Acces Catalog : Fitur ini digunakan oleh pengguna untuk memudahkan pengguna dalam mencari katalog.
  3. Manajemen Bibliografi (Pengadaan, Eksemplar, dll).
  4. Transaksi peminjaman, dan pengembalian.
  5. Manajemen member atau pengguna.
  6. Manajemen penerbitan berkala.

Berdasarkan fitur–fitur umum yang harus di miliki e-library di atas ialah harus sesuai dengan operasional perpustakaan mulai dari pengolahan koleksi bahan pustaka, pengadaan, sirkulasi, keanggotaan, dan OPAC, dan pekerjaan lain dalam ruang lingkup perpustakaan.

  • Pemanfaatan e-library

Manfaat digital library sebagai suatu layanan baru di perpustakaan bagi komunitas pengguna perpustakaan adalah sebagai berikut :

  1. Digital library merupakan layanan yang dapat membantu pada inisiatif pembelajaran yang terintgrasi.
  2. Digital library merupakan sumber yang sempurna untuk mengirimkan teks lengkap dan referensi penting bagi mutimedia, mudah untuk dilakukan dalam penelitian, serta mempermudah dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar (guru atau dosen).
  3. Menciptakan menu bacaan dengan halaman-halaman topik, pelajaranpelajaran dan halaman peminat dan kepeluan komunitas perguruan tinggi.
  4. Mengurangi terjadinya pengulangan kegiatan (Plagiarism).
  5. Penyebaran dan akses informasi akan lebih cepat tanpa batas waktu dan tempat, karena tidak terikat secara nyata atu fisik.
  6. Bersifat lebih luas dari katalog induk dunia (universal main catalogue) dan mampu melakukan kerjasama dalam jejaring informasi (information networking).
  7. Mahasiswa dengan mudah menemukan persoalan yang mereka butuhkan seperti majalah, koran, buku-buku dan transkrip teks lengkap. Informasi tersebut termaksud peta atau atlas, website yang digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah.

Referensi

Penyerahan Donasi ‘Dinuslib Mengajak’

Penyerahan Donasi ‘Dinuslib Mengajak’

UPT Perpustakaan UDINUS mengadakan kegiatan ‘Dinuslib Mengajak’ bersamaan dengan Webinar Perpustakaan :’Pandemic? Library is Still Alive!’ pada hari Kamis, 25 Juni 2020 lalu.

Kegiatan ‘Dinuslib Mengajak’ ini sebagai bentuk solidaritas kami untuk beberapa pustakawan yang terkena dampak pandemi COVID-19 secara langsung. Kami mengajak teman-teman pustakawan, peserta webinar, dan juga umum untuk berdonasi dan membantu pustakawan yang terdampak pandemi COVID-19.

Dinuslib Mengajak berlangsung pada 16 Juni 2020 hingga 10 Juli 2020. Alhamdulillah, puji syukur donasi yang terkumpul sejumlah Rp 9.153.240,-. Sebelumnya kami memilih 3 orang pustakawan terdampak yang akan mendapatkan donasi dari kegiatan ini, namun dengan beberapa pertimbangan kami menambah 2 orang pustakawan terdampak untuk dapat diberikan donasi dari kegiatan ini, sehingga ada 5 orang pustakawan yang mendapatkan donasi dari kegiatan ini. Kelima pustakawan tersebut yaitu:

  1. Pustakawan dari Perpustakaan Desa Kelurahan Dukuh Ngudi Kawruh, Sonorejo – Sukoharjo;
  2. Pustakawan dari Perpustakaan Cerdas Desa Cangkol Kec.Mojolaban – Sukoharjo;
  3. Pustakawan dari Perpustakaan Desa Ngudi Ilmu Desa Mukiran Kaliwungu Kab. Semarang;
  4. Pustakawan dari Wasis Library & Cafe, Bentakan – Sukoharjo;
  5. Pustakawan dari Perpustakaan Sumber Ilmu Desa Jatingarang – Sukoharjo.

Penyerahan donasi dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2020 dengan mekanisme penyerahan donasi adalah bertemu langsung dengan pustakawan, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Donasi yang diberikan berupa paket sembako dan uang tunai untuk 5 orang pustakawan yang telah disebutkan.

Kami, segenap tim UPT Perpustakaan UDINUS mengucapkan banyak terimakasih atas donasi yang telah diberikan dari para peserta Webinar: ‘Pandemic? Library is Still Alive!’ dan juga para donatur yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Semoga donasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi penerima.

Video Penyerahan Donasi Dinuslib Mengajak.